Assalammualiakum….
Lama ga posting jadi kangen, udah banyak peristiwa yang terlewatkan tak terposting diblogku ini. Ngintip postingan blog tetangga udah seabreg ajeee… :)
Postingan kali ini berjudul We Are Family #part 2 kaya sinetron ajah ampe berkelanjutan.. hehehhehehe…
Berpisah sama orang yang pernah hadir dalam kehidupan, memberikan semangat, kasih sayang, bimbingan, nasihat serta perhatian memang susah tuk diterima. Tapi ini memang takdirku harus berpisah dengan mereka. Mereka adalah keluarga besar bapak Drs. Djoko Musono, Akt (nyebutinnya harus begini, kalau gak bakalan marah hehehehe). Pak Joko ini memiliki seorang istri bernama ibu Surotun dan mempunyai dua anak perempuan yaitu bu Ning dan bu Ani (begitulah aku memanggil mereka). Pada pertengahan bulan Mei aku masuk kedalam keluarga tersebut. Sambutan hangatpun aku dapatkan dari mereka. senang rasanya berada dalam keluarga yang harmonis dan menyenangkan. Didalam keluargaku yang baru ini, aku harus menyesuaikan tingkah laku dan sopan santun. Hadirnya aku ditengah-tengah keluarga ini bukan hanya untuk menambah susah tapi memang diperlukan (sok laku bangetttt hahaahaha ). Aku diminta untuk menjaga warung yang tidak besar dan tidak pula sepi (lumayan rame ni warung, kadang aku kwalahan melayani pembeli). Belanja kepasar sentul dipagi hari, pulang langsung beres-beres dapur, buka warung sambil liat FTV yang adegannya bikin iri, pemeran cowo ngasih cincin ke cewe.. haduw…. Ampe mbayangin ama si kulit item hahahaha,, ga mungkin pake bgd!!! #eh..!!
Memasuki bulan ramdhan, aku jalani layaknya seperti biasa. Hanya saja jam berjualan dibuka lebih awal se awal-awalnya. Yuph!! Jualan makan untuk sahur. Jam dua bangun, ku lirik bagian dapur dan ternyata ada bu Ning yang sedang masak. Langsung saja aku mencuci muka dan langsung membuka warung mempersiapkan tempat berjualan. Terkadang aku melakukan sholat lail dulu sebelum membuka warung, berdoa dan berharap semoga jualan sahurnya laku. Bertindak sebagai penjual yang kerjanya Cuma menggoreng-goreng di belakang kadang harus menghadapi perlawanan dari minyak goreng yang panas, bibir wajan yang panas sampe-sampe korbanya adalah yang digoreng hangus. #maklum mata ngantuk jadi begitulah… hehehhehe… begitulah aku jalani bulan ramadhanku bersama kelurga baruku.
Paling seneng kalau lagi kumpul bareng bu Ning, dia orangnya baik, senyum selalu mengembang dibibirnya. #Aaaiikkkhhh… manis bgd lah… sering cerita pengalaman-pengalaman semasa kuliah, pacaran dan sampai menikah. Hehehhee… kaya sama sodara sendiri.
Beda lagi kalau sama bu Ani, dia ini orangnya tegas dalam bertutur kata, sopan sudah pasti dan selalu memberikan nasihat-nasihat yang baik.
Banyak kejadian-kejadian yang aku jadikan pelajaran dari keluarga baruku, hem… kalau untuk menceritakan kebaikan mereka terhadapku bakalan gada habisnya.
Eh ya, dikeluargaku ini juga terdapat anak kecil yang lucu, rewel, bandel, endutz, ngegemesin, hiperaktif dan pastinya cerdas. Dia ini de azza, anak dari bu Ani. Hem…, liat tingkahnya aja dah pengen nyubit pipinya yang embem. Perutnya aja dah kaya karung berisi pasir. Hehehee.. masa hampir setiap bulan dia naik 1 kilo?? Umurnya baru 3 tahun loooh… #bisa ngebayangin gak??
Sampai pada akhirnya, lebaran kemarin adalah lebaran yang paling mengesankan, terharu #tisyu… siapa yang jualan tisyu… hasssah!!! Kenapa bisa terharu, karna bagi aku adalah ini pengalaman yang mengesankan dan berharga.
Sekarang ini aku tak berada di dalam tengah-tengah mereka. aku hanya bisa melihat mereka dibalik jendela kamar kost yang berteralis besi. Pak Joko yang sedang menemani dek azza bermain mobil-mobilan diteras depan rumah, bu ani dan bu ning yang sedang duduk menunggu pembelinya, terkadang yang uthi yang duduk diteras rumah untuk menghilangkan rasa jenuhnya didalam kamar. Ingin rasanya kembali bergabung dengan mereka seperti dulu, bercanda, ketawa, nasihat-nasihat, bimbingan yang membuat aku tak akan melupakan mereka.
“sering-sering main kesini ya mbk, siapa tau aja ada makanan yang bisa dimakan sama mba Abel’z” ucap bu Ani padaku sembari memberikan uang kembalian.
“enggih bu, kalau ada waktu pasti main ke rumah ibu, kangen ma dede azza soalnya” jawabku.
Dan aku pun berlalu meninggalkan warung, dimana dulu aku yang melayani pembeli.
“Tak ada sekat antara aku dan mereka sampai kapanpun, because we are family”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar