Ketika
Pisah
Sudah tiga hari
tiga malam Noya menangis mengingat pacaranya yang untuk mengakhiri hubungannya
tanpa ada alasan yang jelas. Kegalauan melanda hatinya, lagu-lagu galaupun
mengantri untuk meminta didengarkan oleh telingannya Noya. Noya tidak tau harus
berbuat apa. Bingung, resah dan gelisah yang ada dihatinya saat ini. Hari-hari
dilaluinya sangat berbeda, biasanya Noya selalu membuat bibir ade-ade asrama
tersenyum dan ceria mendengarkan cerita-cerita yang dianggap oleh adenya lucu.
“Mba Noya ko
diem aja?” momo membuyarkan lamunan dan Noya hanya menggelengkan kepalanya.
Nisa, Elli dan
Ina salig berpandangan. ‘ Mba Noya kenapa sih, aneh deh??”. Sambut Nisa dalam
hati. “mza Mba Noya ga senyum dan ceria akhir-akhir ini”. Noya hanya diam dan
melanjutkan lamunannya tanpa menghiraukan ade-adenya berbicara.
*******************************************************************8***
Bermula pada
siang itu, Noya pulang dari tempat magangnya dengan tergesa-gesa menuji kampus
untuk menemui dosen pembimbingnya. Dikampus Noya bertemu dengan Rino. Rino
adalah mahasiswa program sore yang sudah dua tahun lalu menyatakan cintanya
kepada Noya namun tak dibalas oleh Noya. Kontan Noya kaget dan memarekirkan
sepedanya dekat dengannya. “jangan sampai dia bilang cinta lagi sama aku” dalam
hati Noya berbisik .
“Hey Noya, mau kemana ko buru-buru gitu?”.
Noya kaget an berhenti sejenak. (Duuuuuuuh..!! malez banget sie..!!) “mau
ketemu dosen mas” jawab Noya sambil berlalu.
“Duduk dulu sini
sebentar, ngapain buru-buru gitu??”
Noya
sibuk memegangi proposal yang akan diberikan kepada dosen pembimbingnya tanpa
menghiraukan Rino. “Aku kesini bukan mau ketemu kamu Rino” dalam hati berbisik.
‘Kamu kenapa
Noya? Ko nangis gitu”? Ria memeluk tubuh Noya dengan lembut yang masih menangis
dan Noya menunjukan beberapa sms dari pacarnya.
Ria hanya diam
sanbil membaca sms dari pacarnya Noya. “kenapa dia begitu, apa ada yang salah
dengan kamu”. Noya masih menangis dalam pelukan sahabatnya. Sembari mengusap
air matanya Noya yang masih mengalir Ria merasa kasihan dan ikut merasakan apa
yang Noya rasakan.
“Mungkin dia belum jodoh buat kamu, relakan saja dia pergi. Kalau memang dia adalah jodoh yang tuhan tentukan untuk kamu, tuhan pasti kan mempertemukan kamu dengan dia ditempat yang indah berdua saja” Ria mencoba menghibur Noya.
“Mungkin dia belum jodoh buat kamu, relakan saja dia pergi. Kalau memang dia adalah jodoh yang tuhan tentukan untuk kamu, tuhan pasti kan mempertemukan kamu dengan dia ditempat yang indah berdua saja” Ria mencoba menghibur Noya.
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
Dua bulan yang
lalu, Noya baru saja memutuskan untuk mengakhiri maza kesendiriaanya dengan
menerima tawaran Galang untuk jadi pacarnya. Galang bukanlah orang baru yang
hadir dalam hari-harinya Noya. Galang merupakan ade angkatan yang berarti dua
tahun dibawahnya Noya. Perkenalan mereka berawal dari facebook. Noya dan Galang
sering bertemu di dunia maya dan jarang banget bertemu didalam kampus, padahal
mereka satu kampus. Tukeran nomor hp (tapi yang sms duluan Noya). Bosan hanya
berkomunikasi di dunia maya Noya ngajak ketemuan dan Galang pun mau.
Pertemuan
pertama yang dirasakan aneh oleh Noya, mereka berdua hanya duduk dan diam,
bertolak belakang sekali dengan di facebook. Akh..!! malez..!! jam masuk kuliah
memisahkan mereka.
Noya mengirim
sms “pertemuan yang kurang mengesankan, tapi seneng bisa ketemu langsung”.
“lah mau gimana
lagi? Ketemu di dalam kampus ga enak mba.. :P..” galang membalas.
$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$
Hari berganti,
ceita Noya dengan Galang tidak berhenti sampai disitu. Cewe mana sih yang
enggak bahagia ditembak sama cowo pujaannya. Enggak beda dengan Noya, yang
sedikit berubah sejak “jadian” Galang. Berangkat kekampus lebih ceria, wangi
dan selalu mandi pagi walaupun masuk kampus jamnya siang.
“Tumben enggak
tidur abis sholat subuh?” ujar Elli sewaktu antri mandi.
Dengan senyum
Noya menjawab “duuuuuuuuuuuuuuuuh..., biasa ajah dunk de Elli, lagi seneng
nie... hahahha....”
“Yah, semoga mba
Noya selalu diberi kesenangan oleh Allah melalui orang-orang yang dekat dengan
mba Noya...” seraya menadahkan tangan berdoa pada Allah.
“Amiiiiiiiiiiiiinn...,
thanks for you pray.. J, udah sana mandi...!! Noya Masih
membaca majalah islaminya.
Selesai apel
pagi Noya dan ade-adenya sarapan. “mba Noya baru jadian de seminggu yang lalu”
Noya membisikan pad telingannya Elli. “Emh..., pantesan wajahnya selalu ceria”
jawab Elli. “kayaknya perlu ada PJ-PJ nie.., Ina, Nisa kamu mau ditraktir apa
sama mba Noya?” teriak Elli kepada dua temennya. “Emang ada apa, siapa yang
ultah hari ini?” Nisa berbicara. “Ini mba Noya baru jadian” . Nisa dan Ina
serentak bertanya “sma siapa mba?”. “Apa mba Noya udah yakin??” Ina kembali
bertanya.
“sama Galang, itu loh de yang dulu pernah mba
ceritain pas mba dan mas Galang pernah satu kelas” Noya mebjawab.
“ooooooooooooooowwwwwwwwhhhh.... ”Elli, Ina dan Nisa kompak menjawab.
“doanya ajah ya
de” Noya berkata.
“Langgeng yah
mba.. J
J
J”
Nisa berdiri dan mengambil minum.
“thanks
de”... J J
sembari menyalami mereka berangkat
sekolah.
Setelah
jadian dengan Galang, tak ada perbedaan yang dirasakan oleh Noya. Masih sama,
jarang ketemu enggak pernah keluar malam berdua. Mungkin gak penting bagi
Galang, padahal Noya ingin sekali bisa menghabiskan waktu liburnya berdua
bersama Galang. Setiap diajak ketemuan, Galang selalu ajah ada alasan yang
enggak bisa ditolak oleh Noya. Itu yang kadang membuat bingung Noya. Galang
tidak mau ada teman-teman satu kampus tau kalu mereka sudah jadian, memajang
foto di jejaring sosial apapun. Mungkin Backstreet lebih pas untuk sebutan
hubungan mereka. Noya selalu menuruti, memahami dan mengerti Galang, tanpa
Galang tau Noya pun ingin dimengerti dan dipahami. Sayang dan cinta, itulah
yang membuat Noya tetap bertahan dengan Galang.
Tapi itu dua
bulan yang lalu, saat mereka bersama. Dalam diri Noya tidak akan pernah benci
dengan Galang, karna Galang adalah orang yang pernah mengisi relung hatinya.
Noya akan selalu mencintai Galang entah samapai kapan. Noya pun tau, bahwa
Galang masih mencintai dan menyayangi Noya.
Ya rabb.....
Terimakasih
engkau telah mempertemukan hamba dengannya...,
semoga setelah
perpisahan ini akan ada pertemuan kembali dengan waktu dan tempat yang
berbeda...,
Besar harapan
dan impian hamba untuk bisa hidup lebih lama lagi bersama dengannya...
Doa malam yang
dipanjatkan Noya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar