“Hey…, kenapa duduk sendiri Ca?? gak ada kuliah??” suara Rina mengagetkanku. "Kamu…!! ada nanti jam ketiga” jawabku. “Caca kebiasaan melamun, ngelamunin siapa sie??” sergah Rina. “gak ko…” hehehehe.. Aku duduk berdua dengan Rina temanku satu kampus. Tak lama kemudian muncul temanku Lita. “belum masuk Rin?” tanyanya pada Rina tanpa melihat aku yang sedang duduk bareng. “belum” jawab Rina. Kita duduk bertiga namun aku dan lita tak ada pembicaraan yang berarti.
Sejenak mengingat
kembali aku dan Lita.
Aku dan Lita adalah
teman satu fakultas namun beda jurusan.
Dikampus inilah kita dipertemukan, sampai-sampai menempati satu kost satu
kamar. Bersama dalam satu kamar membuat diriku seneng dan merasa tidak sepi.
Malam ini aku pulang
diantar oleh pacarku, Adi. Aku banyak cerita tentang Adi sama Lita dari A sampai Z, semuanya tanpa
terkecuali. Sering aku ajak Adi maen ke kost ku. Ngobrol bareng bertiga dengan
Lita tapi Lita enggan menanggapi. Namun lama kelamaan Lita akhirnya mau juga
diajak ngobrol sama Adi. Aku merasa ada yang aneh diantara mereka berdua.
Mereka lebih sering ngobrol berdua padahal disitu ada kami bertiga. Aku tak
menyangka kalau mereka berdua sangat akrab.
Tanpa komunikasi dengan
Adi, aku tak tau apa yang sebenarnya terjadi dengan Adi sampai –sampai tak ada
kabarnya sama sekali. Aku pun mencoba menghubungi dia namun tidak berhasil, aku
bertanya kepada keluarganya tapi dari keluarga juga tidak ada yang tau.
Ponselku berdering , ada
panggilan masuk. “kayaknya aku kenal dengan nomor ini” batinku. Langsung aku jawab
panggilan itu. “halo....”. terdengar suara disebrang sana, suara yang tidak
asing lagi tu aku dengar. Ya, itu adalah suara Adi, suara yang aku tunggu
selama dua minggu ini. Perasaan yang harusnya gembira berubah jadi kecewa.
Bukannya dia menanyakan kabarku tapi dia mlah menanyakan kabar Lita yang tidak lain adalah teman baikku. Betapa
hancurnya hatiku pada saat itu, ketika dia menghindar dariku hanya untuk
mendekati Lita. Lita tak pernah bicara apapun tentang Adi kepadaku. Aku pun
kecewa dengan Lita, orang yang sudah aku anggap teman dekat malah main belakang
dengan Adi yang masih aku anggap sebagi pacar.
Sekarang aku dan Lita
sudah benar-benar tidak ada komunikasi seperti dulu. Yang selalu bersama,
berangkat kuliah, jalan-jalan, ngerjain tugas dikamar, ngobrol sampe larut
malam. Kebiasaan itu berubah, kita seperti orang yang tidak saling mengenal.
Bahkan saling sapa pun kita jarang bahkan tidak sama sekali.
“Hey…, ngelamun
terus..!! ngelamunin siapa sieh??” suara Rina membuyarkanku. “gak.. ko.. “
senyum. “Dosennya ko belum datang-datang, dah mau masuk juga” omel Rina.
“sabar.., kan masih 10 menit lagi ko” jawabku. Aku melirik ke arah Lita yang
sedang asyik bermain dengan ponselnya. Entah dengan siapa dia bersmsan. Tapi ya
sudahlah, itukan masa lalu. Aku memaafkannya tapi keadaan tidak akan kembali
seperti sedia kala. Lagipula aku sudah punya pengganti Adi yang insyallah dia
dikirim sang khalik untuk menjagaku. Amiin…
Cerita ini langsung dari sumbernya. sudah mendapat persetujuan kalau tulisan ini diterbitkan. Maaf untuk nama pelaku, penulis sengaja memakai nama samaran.
Ambil hikmahnya dari kisah ini... :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar