Selasa, 26 Maret 2013

Segitiga Bermuda













“Hey…, kenapa duduk sendiri Ca?? gak ada kuliah??” suara Rina mengagetkanku. "Kamu…!! ada nanti  jam ketiga” jawabku. “Caca kebiasaan melamun, ngelamunin siapa sie??” sergah Rina. “gak ko…” hehehehe.. Aku duduk berdua dengan Rina temanku satu kampus. Tak lama kemudian muncul temanku Lita. “belum masuk Rin?” tanyanya pada Rina tanpa melihat aku yang sedang duduk bareng. “belum” jawab Rina. Kita duduk bertiga namun aku dan lita tak ada pembicaraan yang berarti. 

Sejenak mengingat kembali  aku dan Lita.

Aku dan Lita adalah teman satu fakultas  namun beda jurusan. Dikampus inilah kita dipertemukan, sampai-sampai menempati satu kost satu kamar. Bersama dalam satu kamar membuat diriku seneng dan merasa tidak sepi. 

Malam ini aku pulang diantar oleh pacarku, Adi. Aku banyak cerita tentang  Adi sama Lita dari A sampai Z, semuanya tanpa terkecuali. Sering aku ajak Adi maen ke kost ku. Ngobrol bareng bertiga dengan Lita tapi Lita enggan menanggapi. Namun lama kelamaan Lita akhirnya mau juga diajak ngobrol sama Adi. Aku merasa ada yang aneh diantara mereka berdua. Mereka lebih sering ngobrol berdua padahal disitu ada kami bertiga. Aku tak menyangka kalau mereka berdua sangat akrab. 

Tanpa komunikasi dengan Adi, aku tak tau apa yang sebenarnya terjadi dengan Adi sampai –sampai tak ada kabarnya sama sekali. Aku pun mencoba menghubungi dia namun tidak berhasil, aku bertanya kepada keluarganya tapi dari keluarga juga tidak ada yang tau. 

Ponselku berdering , ada panggilan masuk. “kayaknya aku kenal dengan nomor ini” batinku. Langsung aku jawab panggilan itu. “halo....”. terdengar suara disebrang sana, suara yang tidak asing lagi tu aku dengar. Ya, itu adalah suara Adi, suara yang aku tunggu selama dua minggu ini. Perasaan yang harusnya gembira berubah jadi kecewa. Bukannya dia menanyakan kabarku tapi dia mlah menanyakan kabar Lita yang  tidak lain adalah teman baikku. Betapa hancurnya hatiku pada saat itu, ketika dia menghindar dariku hanya untuk mendekati Lita. Lita tak pernah bicara apapun tentang Adi kepadaku. Aku pun kecewa dengan Lita, orang yang sudah aku anggap teman dekat malah main belakang dengan Adi yang masih aku anggap sebagi pacar. 

Sekarang aku dan Lita sudah benar-benar tidak ada komunikasi seperti dulu. Yang selalu bersama, berangkat kuliah, jalan-jalan, ngerjain tugas dikamar, ngobrol sampe larut malam. Kebiasaan itu berubah, kita seperti orang yang tidak saling mengenal. Bahkan saling sapa pun kita jarang bahkan tidak sama sekali. 

“Hey…, ngelamun terus..!! ngelamunin siapa sieh??” suara Rina membuyarkanku. “gak.. ko.. “ senyum. “Dosennya ko belum datang-datang, dah mau masuk juga” omel Rina. “sabar.., kan masih 10 menit lagi ko” jawabku. Aku melirik ke arah Lita yang sedang asyik bermain dengan ponselnya. Entah dengan siapa dia bersmsan. Tapi ya sudahlah, itukan masa lalu. Aku memaafkannya tapi keadaan tidak akan kembali seperti sedia kala. Lagipula aku sudah punya pengganti Adi yang insyallah dia dikirim sang khalik untuk menjagaku. Amiin…

Cerita ini langsung dari sumbernya. sudah mendapat persetujuan kalau tulisan ini diterbitkan. Maaf untuk nama pelaku, penulis sengaja memakai nama samaran. 

Ambil hikmahnya dari kisah ini... :) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar