Rabu, 20 November 2013

Keputusanku

Minggu itu memasuki lebaran Idhul adha. Zi turun dari motor kakaknya yang telah menjemput pulang dari Jogja. Zi melangkah dengan tenang. Terdengar suara tiga ponakan Zi yang memanggil namanya, langsung saja mereka menggelayuti Zi. Zi cium mereka satu persatu. Datanglah ibu dan abah dari ruang makan, langsung saja Zi cium kedua tangan mereka lalu dipeluk dengan rasa kangen.
Alhamdulillah, sudah sampai” ucap ibu, seraya mencium keningnya.
Iya, Alhamdulillah” lirihnya.
Istirahat dulu Zi, mandi terus sholat magrib” ajak abahnya.
Iya” sembari membenahkan tempat tidur dan meletakan tasnya.
Senja semakain merona,. Warna jingga dibarat sana nampak romantis. Ada secercah resah pada anak manusia. Zi resah. Batinnya sedang terusik karena masalah pernikahan. Dalam sujudnya Zi meminta kepada sang pencipta agar bisa sabar dan santai melaluinya.
Sedang di sudut ruangan Zi duduk dengan kedua kakak perempuannya, Ika dan Umi. Mereka bertiga sedang membicarakan hal pernikahan Zi. Datanglah Endra menghampiri Zi. Deg! Inilah pertama kalinya Zi bertemu dengan Endra. Tak menyangka akhirnya tuhan mempertemukan mereka berdua. Ada perasaan gelisah dan rasa bersalah yang menggelayuti hati Zi.
Zi kenal Endra sejak dua tahun yang lalu. Perkenalan mereka berdua berjalan dengan cepat. Entah kenapa dia sampai memutuskan untuk terima Endra menjadi pacarnya. Walaupun selama dua tahun tak bertatap muka, mereka selalau berkomunikasi dengan baik. Adakalanya rasa jenuh menghampiri Zi. Kenapa dia mempunyai pacar yang jauh, tak bisa setiap hari, tiap minggu bahkan tiap bulan tuk bertemu. Mungkin sudah takdirnya mereka dipertemukan dengan keadaan jarak yang memisahkan. Layaknya hubungan, tanpa masalah tak akan sedap untuk dijalani. Mereka pernah bertengkar karena Zi merasa terganggu dengan sikapnya Endra yang selalu ingin menang sendiri. Hal itulah yang membuat Zi memilih untuk mengakhiri hubungannya dengan Endra. Mereka pacaran dengan jarak jauh tak cukup lama, tiga bulan mempunyai pacar tapi tak merasa seperti mempunyai. Ya, karna jaraklah yang memisahkannya. Sejak putus dengan Endra, Zi bersikap seperti biasanya. Menjalani kuliahnya dan berbagai kesibukan lainnya.
Memasuki lebaran Idhul Fitri, kembali Zi dipertemukan dengan Endra. Setelah lama tak berkomunikasi dengan Endra, ada rasa canggung yang dirasakan oleh Zi. Ternyata Endra menunggu Zi untuk bisa kembali dengannya. Endra mengutarakan niatnya untuk meminang Zi.
Zi, maukah kamu menikah denganku?”
Kalau kamu mau menikah denganku, aku sangat senang sekali Zi”
Zi hanya terdiam mendengarkan kata-kata yang terucap dari bibir Endra. Zi tak menyangka kalau Endra berani melamarnya. Dalam hatinya Zi masih mencintai Stiya.
Zi, kenapa diam? Kamu maukan menikah denganku?” Endra kembali bertanya.
Emmm, ya kenapa mas?” Zi tergagap.
Aku tak tau mas. Aku tak tau harus menjawab apa”
Apa mas yakin denganku, sampai memutuskan untuk meminang aku?” tanya Zi.
Insyaallah, kamu adalah wanita yang dikirimkan oleh Allah untuk aku” Endra meyakinkan Zi.
Zizi tediam, tak memperdulikan suara disebrang sana memanggil-manggil namanya. Yang ada dalam hatinya adalah perasaan gundah.
Pak, saya ini ingin ketemu dulu dengan anak Bapak. Masalah nikah atau tidaknya kita kan sambil berjalan” ucap Zi.
Iya nak, bapak juga ingin seperti itu. Siapa tau setelah kamu bertemu dengan Endra bisa melansungkan pernikahan” jawabnya.
Untuk saat ini saya tidak berjanji untuk bisa menikah dengan mas Endra. Saya mau berjalan seperti biasa saja. Lagian saya ini masih harus menyelesaikan kuliah yang tinggal sebentar lagi rampung. Dan kalaupun mas Endra sudah berkeinginan untuk menikah. Saya persilahkan mas Endra mencari wanita lain yang sudah siap untuk dinikahi” ucap Zi panjang lebar.
Abah dan ibunya Zi sangat mendukung dengan lamaran Endra. Karena abah dan ibunya Zi sudah tau siapa Endra dan keluarganya Endra. Sebelum Endra meminta Zi untuk menjadi istrinya, orang tua Endra sudah meminta duluan kepada orang tua Zi. Namun keputusan berada pada tangan Zizi.
Tak ada alasan untuk tidak kembali berkomunikasi dengan Endra, mungkin dia adalah jodoh yang dipersiapkan Allah untuk Zi. Tak berharap lebih dari hubungan itu, Zi hanya bisa menjalani dengan biasa saja. Dalam sholatnya dia tak lupa berdoa kepada Allah meminta petunjuk tentang masalah lamaran Endra kepada Zi.
Assalammu’alaikum..,” sapa Endra, mengejutkan Zi dari pintu. “Wa’alaikum salam” jawab Zi agak sedikit tergagap.
Dari mana mz Endra?”
Emmm, dari rumah saudara”
Keduanya melangkah bersama ke ruang tamu. Zi hanya diam dalam langkah. Endra mencuri pandang gadis yang tak jauh dari langkahnya. Gadis yang sudah dua tahun dikenalnya.
Tak banyak basa basi, Endra langsung berbicara tentang masalah lamaranya.
Gimana Zi, apakah kamu mau menikah denganku?”
Zi terdiam memandangi semut yang berjalan dilantai membawa sisa-sisa makanan.
Zi, tolong kamu jawab dan beri kepastian untuk aku” pinta Endra.
Dengan berat hati Zi berbicara. Ada rasa kecewa yang dirasakan Endra pada saat itu. Perjuangan untuk mendapatkan Zi sangatlah berat. Endra datang jauh-jauh dari Sumatera, rela meninggalkan pekerjaan hanya untuk melamar seorang gadis pujaanya. Namun perjuangannya tak sejalan dengan harapannya. Zi memegang tangan Endra dan berkata.
Mas Endra, untuk kali ini Zi belum siap untuk dipinang olehmu dan oleh siapapun”
Banyak yang harus aku selesaikan dalam study Zi”
Zi mau fokus dulu untuk study Zi”
Zi takut, Zi ga bisa menjadi Istri yang baik untuk mas”
Untuk sekarang ini kita saudaraan saja” pinta Zizi.
Dengan nada terbata-bata Zi, mengucapkan kata-kata itu. Zi melirikan matanya melihat Endra yang lemas dan kecewa dengan putusan Zi.
Maaf mas, atas sikapku terhadapmu”
Seminggu berada dikampung Zi, Endra sudah mendapat jawaban yang dinantikan. Dan karena Zi menolak untuk dilamarnya, Endra pun harus kembali ke Bengkulu untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Dengan mengajak Zi jalan-jalan melihat pemandangan persawahan di desanya Zi. Endra tak canggung dan marah kepada Zi. Ini sudah menjadi sebuah resiko untuk Endra. Zi juga nyaman sekarang, karena tak ada tanggungan perasaan yang menggelayuti hatinya.
Mentari bersinar kekuningan, angin sore membuat sejuk dan kerudung Zi manari-nari. Zi diam memandang jauh ke arah pepadian yang mulai menguning.
Zi, makasih sudah mau menjadi bagian hidupku” Endra membuka pembicaraan.
Kamu yang sudah selalu menasihatiku, mengingatkan aku untuk selalu berbuat kebaikan dan kamu juga yang telah membuat hati ini kecewa”
Aku hanya bisa meminta kepadamu agar tak melupakan aku disaat kita tak bersama lagi. Semoga kamu bisa mendapatkan jodoh yang sesuai dengan keinginanmu”.
Zi masih terdiam dan sesekali membenarkan posisi kerudungnya.
Zi, aku minta kepadamu, jangan pernah kamu tidak memberi kabar kepadaku. kabar apapun tentangmu, entah itu kabar baik, bahagia ataupun sedih”
Lama menunggu jawaban dari Zi, Endra memanggil namanya dengan lembut membuat Zi berani menatap wajah Endra.
Mas, Zi hanya butuh doa, nasihat dan support untuk kuliah Zi”
Berharaplah tak terjadi apapun yang buruk”
Zi sudah menganggap mas itu seperti kakak Zi sendiri, karena pada awalnya kita adalah keluarga, jadi tak mungkin Zi melupakan mas Endra”
Air mata Zi mulai mengalir. Dalam hati Zi berkata “Ya Allah, jika kami berjodoh maka tetapkanlah hati kami berdua, namun jika kami tidak berjodoh maka carikanlah pengganti untuk kami sesuai dengan keinginan kami”
Senja mengahiri hari itu, mereka berdua pun kembali ke rumah masing-masing.
Sore itu menjadi pertemuan terahir untuk mereka. Besok pagi Endra sudah harus berangkat kembali ke Sumatera untuk bekerja. Keluarga Endra menerima keputusan Zi menolak untuk menerima dan menikah dengan Endra. Zi duduk dengan Endra di teras. Malam itu Zi gunakan untuk mengenal lebih dekat lagi dengan Endra. Ngobrol-ngobrol seperi biasa, seperti sudah tidak ada rasa canggung dan malu diatara mereka berdua. Sebenarnya Zi tak yakin mengambil keputusan menolak lamaran Endra. Ada sedikit hal yang Zi ragu terhadap Endra. Namun keputusan sudah menjadi keputusan, Zi tak mau merubah keputusannya. Kembali mereka tertawa bersama, Zi membuatkan secangkir kopi untuk Endra. Sembari memegang tangan Zi, Endra berbicara pelan kepada Zi.
Aku akan menunggumu sampai kamu selesai kuliahmu”
Zi melepaskan tangannya dari genggaman Endra. Zi hanya diam dalam sesaat kemudian masuklah ayah Endra.
Zi, selesaikanlah kuliahmu, jangan sampai terhenti ditengah jalan. Kita sekeluarga mendoakan untuk kebaikan kamu”
Semoga kamu bisa menjadi apa yang kamu cita-citakan”
Zi hanya mengamini ucapan ayah Endra.
Terimakasih pak, semoga dikabulkan doanya”
Iya Zi, jangan lupa kalau ada waktu maen ke Bengkulu sekedar silaturahim”
Insyaallah pak, doakan saja semoga umurku panjang, amiin” balasnya.
Malampun semakin larut, Zi dan keluarganya berpamitan untuk pulang.
Mas, kalu bis yang mau nganter mas ke Bengkulu sudah datang, tolong kasih tau Zi ya mas?” pinta Zi kepada Endra.
Iya Zi, pasti aku kasih tau ko ke kamu” sembari senyum.
Dengan rela, Endra melepas jabat tangannya dan melihat Zi melangkah kembali kerumahnya.
Pagi hari, Zi baru selesai mencuci piring. Ada pesan masuk ke ponselnya.
Dek, bisnya sudah datang, mas pamit berangkat yah”
Langsung Zi meninggalkan dapur menuju dimana Zi menyaksikan Endra pergi. Sesampainya, Zi hanya bisa melihat dari dekat Endra memasukan barang-barang dalam bis. Zi, meneteskan air mata lagi. Ada perasaan bersalah dalam dirinya karena telah menolak Endra. Dengan cepat Zi menghapus air mata dan bersikap biasa saja. Endra selesai memasukan barang dan berpamitan kepada seluruh keluarga. Sesampai dihadapan Zi, Endra hanya mengulurkan tangannya tanpa ada kata-kata yang terucap dari bibirnya. Endra masuk kedalam mobil, Zi langsung pergi menuju rumahnya tanpa melihat bis situ berjalan meninggalkan desa.
Maafkan aku mas Endra” ucapnya lirih.










Tidak ada komentar:

Posting Komentar