Minggu
itu memasuki lebaran Idhul adha. Zi turun dari motor kakaknya yang
telah menjemput pulang dari Jogja. Zi melangkah dengan tenang.
Terdengar suara tiga ponakan Zi yang memanggil namanya, langsung saja
mereka menggelayuti Zi. Zi cium mereka satu persatu. Datanglah ibu
dan abah dari ruang makan, langsung saja Zi cium kedua tangan mereka
lalu dipeluk dengan rasa kangen.
“Alhamdulillah,
sudah sampai” ucap ibu, seraya mencium keningnya.
“Iya,
Alhamdulillah” lirihnya.
“Istirahat
dulu Zi, mandi terus sholat magrib” ajak abahnya.
“Iya”
sembari membenahkan tempat tidur dan meletakan tasnya.
Senja
semakain merona,. Warna jingga dibarat sana nampak romantis. Ada
secercah resah pada anak manusia. Zi resah. Batinnya sedang terusik
karena masalah pernikahan. Dalam sujudnya Zi meminta kepada sang
pencipta agar bisa sabar dan santai melaluinya.
Sedang
di sudut ruangan Zi duduk dengan kedua kakak perempuannya, Ika dan
Umi. Mereka bertiga sedang membicarakan hal pernikahan Zi. Datanglah
Endra menghampiri Zi. Deg! Inilah pertama kalinya Zi bertemu dengan
Endra. Tak menyangka akhirnya tuhan mempertemukan mereka berdua. Ada
perasaan gelisah dan rasa bersalah yang menggelayuti hati Zi.
Zi
kenal Endra sejak dua tahun yang lalu. Perkenalan mereka berdua
berjalan dengan cepat. Entah kenapa dia sampai memutuskan untuk
terima Endra menjadi pacarnya. Walaupun selama dua tahun tak bertatap
muka, mereka selalau berkomunikasi dengan baik. Adakalanya rasa jenuh
menghampiri Zi. Kenapa dia mempunyai pacar yang jauh, tak bisa setiap
hari, tiap minggu bahkan tiap bulan tuk bertemu. Mungkin sudah
takdirnya mereka dipertemukan dengan keadaan jarak yang memisahkan.
Layaknya hubungan, tanpa masalah tak akan sedap untuk dijalani.
Mereka pernah bertengkar karena Zi merasa terganggu dengan sikapnya
Endra yang selalu ingin menang sendiri. Hal itulah yang membuat Zi
memilih untuk mengakhiri hubungannya dengan Endra. Mereka pacaran
dengan jarak jauh tak cukup lama, tiga bulan mempunyai pacar tapi tak
merasa seperti mempunyai. Ya, karna jaraklah yang memisahkannya.
Sejak putus dengan Endra, Zi bersikap seperti biasanya. Menjalani
kuliahnya dan berbagai kesibukan lainnya.
Memasuki
lebaran Idhul Fitri, kembali Zi dipertemukan dengan Endra. Setelah
lama tak berkomunikasi dengan Endra, ada rasa canggung yang dirasakan
oleh Zi. Ternyata Endra menunggu Zi untuk bisa kembali dengannya.
Endra mengutarakan niatnya untuk meminang Zi.
“Zi,
maukah kamu menikah denganku?”
“Kalau
kamu mau menikah denganku, aku sangat senang sekali Zi”
Zi
hanya terdiam mendengarkan kata-kata yang terucap dari bibir Endra.
Zi tak menyangka kalau Endra berani melamarnya. Dalam hatinya Zi
masih mencintai Stiya.
“Zi,
kenapa diam? Kamu maukan menikah denganku?” Endra kembali bertanya.
“Emmm,
ya kenapa mas?” Zi tergagap.
“Aku
tak tau mas. Aku tak tau harus menjawab apa”
“Apa
mas yakin denganku, sampai memutuskan untuk meminang aku?” tanya
Zi.
“Insyaallah,
kamu adalah wanita yang dikirimkan oleh Allah untuk aku” Endra
meyakinkan Zi.
Zizi
tediam, tak memperdulikan suara disebrang sana memanggil-manggil
namanya. Yang ada dalam hatinya adalah perasaan gundah.
“Pak,
saya ini ingin ketemu dulu dengan anak Bapak. Masalah nikah atau
tidaknya kita kan sambil berjalan” ucap Zi.
“Iya
nak, bapak juga ingin seperti itu. Siapa tau setelah kamu bertemu
dengan Endra bisa melansungkan pernikahan” jawabnya.
“Untuk
saat ini saya tidak berjanji untuk bisa menikah dengan mas Endra.
Saya mau berjalan seperti biasa saja. Lagian saya ini masih harus
menyelesaikan kuliah yang tinggal sebentar lagi rampung. Dan kalaupun
mas Endra sudah berkeinginan untuk menikah. Saya persilahkan mas
Endra mencari wanita lain yang sudah siap untuk dinikahi” ucap Zi
panjang lebar.
Abah
dan ibunya Zi sangat mendukung dengan lamaran Endra. Karena abah dan
ibunya Zi sudah tau siapa Endra dan keluarganya Endra. Sebelum Endra
meminta Zi untuk menjadi istrinya, orang tua Endra sudah meminta
duluan kepada orang tua Zi. Namun keputusan berada pada tangan Zizi.
Tak
ada alasan untuk tidak kembali berkomunikasi dengan Endra, mungkin
dia adalah jodoh yang dipersiapkan Allah untuk Zi. Tak berharap lebih
dari hubungan itu, Zi hanya bisa menjalani dengan biasa saja. Dalam
sholatnya dia tak lupa berdoa kepada Allah meminta petunjuk tentang
masalah lamaran Endra kepada Zi.
“Assalammu’alaikum..,”
sapa Endra, mengejutkan Zi dari pintu. “Wa’alaikum salam” jawab
Zi agak sedikit tergagap.
“Dari
mana mz Endra?”
“Emmm,
dari rumah saudara”
Keduanya
melangkah bersama ke ruang tamu. Zi hanya diam dalam langkah. Endra
mencuri pandang gadis yang tak jauh dari langkahnya. Gadis yang sudah
dua tahun dikenalnya.
Tak
banyak basa basi, Endra langsung berbicara tentang masalah lamaranya.
“Gimana
Zi, apakah kamu mau menikah denganku?”
Zi
terdiam memandangi semut yang berjalan dilantai membawa sisa-sisa
makanan.
“Zi,
tolong kamu jawab dan beri kepastian untuk aku” pinta Endra.
Dengan
berat hati Zi berbicara. Ada rasa kecewa yang dirasakan Endra pada
saat itu. Perjuangan untuk mendapatkan Zi sangatlah berat. Endra
datang jauh-jauh dari Sumatera, rela meninggalkan pekerjaan hanya
untuk melamar seorang gadis pujaanya. Namun perjuangannya tak sejalan
dengan harapannya. Zi memegang tangan Endra dan berkata.
“Mas
Endra, untuk kali ini Zi belum siap untuk dipinang olehmu dan oleh
siapapun”
“Banyak
yang harus aku selesaikan dalam study Zi”
“Zi
mau fokus dulu untuk study Zi”
“Zi
takut, Zi ga bisa menjadi Istri yang baik untuk mas”
“Untuk
sekarang ini kita saudaraan saja” pinta Zizi.
Dengan
nada terbata-bata Zi, mengucapkan kata-kata itu. Zi melirikan matanya
melihat Endra yang lemas dan kecewa dengan putusan Zi.
“Maaf
mas, atas sikapku terhadapmu”
Seminggu
berada dikampung Zi, Endra sudah mendapat jawaban yang dinantikan.
Dan karena Zi menolak untuk dilamarnya, Endra pun harus kembali ke
Bengkulu untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Dengan
mengajak Zi jalan-jalan melihat pemandangan persawahan di desanya Zi.
Endra tak canggung dan marah kepada Zi. Ini sudah menjadi sebuah
resiko untuk Endra. Zi juga nyaman sekarang, karena tak ada
tanggungan perasaan yang menggelayuti hatinya.
Mentari
bersinar kekuningan, angin sore membuat sejuk dan kerudung Zi
manari-nari. Zi diam memandang jauh ke arah pepadian yang mulai
menguning.
“Zi,
makasih sudah mau menjadi bagian hidupku” Endra membuka
pembicaraan.
“Kamu
yang sudah selalu menasihatiku, mengingatkan aku untuk selalu berbuat
kebaikan dan kamu juga yang telah membuat hati ini kecewa”
“Aku
hanya bisa meminta kepadamu agar tak melupakan aku disaat kita tak
bersama lagi. Semoga kamu bisa mendapatkan jodoh yang sesuai dengan
keinginanmu”.
Zi
masih terdiam dan sesekali membenarkan posisi kerudungnya.
“Zi,
aku minta kepadamu, jangan pernah kamu tidak memberi kabar kepadaku.
kabar apapun tentangmu, entah itu kabar baik, bahagia ataupun sedih”
Lama
menunggu jawaban dari Zi, Endra memanggil namanya dengan lembut
membuat Zi berani menatap wajah Endra.
“Mas,
Zi hanya butuh doa, nasihat dan support untuk kuliah Zi”
“Berharaplah
tak terjadi apapun yang buruk”
“Zi
sudah menganggap mas itu seperti kakak Zi sendiri, karena pada
awalnya kita adalah keluarga, jadi tak mungkin Zi melupakan mas
Endra”
Air
mata Zi mulai mengalir. Dalam hati Zi berkata “Ya Allah, jika kami
berjodoh maka tetapkanlah hati kami berdua, namun jika kami tidak
berjodoh maka carikanlah pengganti untuk kami sesuai dengan keinginan
kami”
Senja
mengahiri hari itu, mereka berdua pun kembali ke rumah masing-masing.
Sore
itu menjadi pertemuan terahir untuk mereka. Besok pagi Endra sudah
harus berangkat kembali ke Sumatera untuk bekerja. Keluarga Endra
menerima keputusan Zi menolak untuk menerima dan menikah dengan
Endra. Zi duduk dengan Endra di teras. Malam itu Zi gunakan untuk
mengenal lebih dekat lagi dengan Endra. Ngobrol-ngobrol seperi biasa,
seperti sudah tidak ada rasa canggung dan malu diatara mereka berdua.
Sebenarnya Zi tak yakin mengambil keputusan menolak lamaran Endra.
Ada sedikit hal yang Zi ragu terhadap Endra. Namun keputusan sudah
menjadi keputusan, Zi tak mau merubah keputusannya. Kembali mereka
tertawa bersama, Zi membuatkan secangkir kopi untuk Endra. Sembari
memegang tangan Zi, Endra berbicara pelan kepada Zi.
“Aku
akan menunggumu sampai kamu selesai kuliahmu”
Zi
melepaskan tangannya dari genggaman Endra. Zi hanya diam dalam sesaat
kemudian masuklah ayah Endra.
“Zi,
selesaikanlah kuliahmu, jangan sampai terhenti ditengah jalan. Kita
sekeluarga mendoakan untuk kebaikan kamu”
“Semoga
kamu bisa menjadi apa yang kamu cita-citakan”
Zi
hanya mengamini ucapan ayah Endra.
“Terimakasih
pak, semoga dikabulkan doanya”
“Iya
Zi, jangan lupa kalau ada waktu maen ke Bengkulu sekedar silaturahim”
“Insyaallah
pak, doakan saja semoga umurku panjang, amiin” balasnya.
Malampun
semakin larut, Zi dan keluarganya berpamitan untuk pulang.
“Mas,
kalu bis yang mau nganter mas ke Bengkulu sudah datang, tolong kasih
tau Zi ya mas?” pinta Zi kepada Endra.
“Iya
Zi, pasti aku kasih tau ko ke kamu” sembari senyum.
Dengan
rela, Endra melepas jabat tangannya dan melihat Zi melangkah kembali
kerumahnya.
Pagi
hari, Zi baru selesai mencuci piring. Ada pesan masuk ke ponselnya.
“Dek,
bisnya sudah datang, mas pamit berangkat yah”
Langsung
Zi meninggalkan dapur menuju dimana Zi menyaksikan Endra pergi.
Sesampainya, Zi hanya bisa melihat dari dekat Endra memasukan
barang-barang dalam bis. Zi, meneteskan air mata lagi. Ada perasaan
bersalah dalam dirinya karena telah menolak Endra. Dengan cepat Zi
menghapus air mata dan bersikap biasa saja. Endra selesai memasukan
barang dan berpamitan kepada seluruh keluarga. Sesampai dihadapan Zi,
Endra hanya mengulurkan tangannya tanpa ada kata-kata yang terucap
dari bibirnya. Endra masuk kedalam mobil, Zi langsung pergi menuju
rumahnya tanpa melihat bis situ berjalan meninggalkan desa.
“Maafkan
aku mas Endra” ucapnya lirih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar